LITERASI - 6 Mei 2021

Sangkil Mangkus Pembelajaran Daring Dalam Membentuk Karakter Anak

Oleh: Mumtazatul Fardiyah*

Wabah virus korona atau Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), tak dinyana telah mendobrak gerbang kebiasaan, di semua lini kehidupan manusia. Proses adaptasi terhadap hal-hal berbau kekinian atau keterbaruan yang selama ini tak terpikirkan, justru sekarang menjadi keharusan. Tuntutan adaptasi ini salah satunya merambah pada dunia pendidikan. Perubahan metode belajar yang biasanya dilakukan dengan pertemuan langsung secara tatap muka diubah menjadi pertemuan tak langsung dengan menggunakan teknologi daring. Sungguh adaptasi yang tak mudah dilakukan. Guru dan orang tua dituntut dalam resonansi yang sama agar menghasilkan pendidikan anak berkarakter.

Pendidikan merupakan hal yang terbiasa dengan tatap muka. Berbagai disiplin ilmu memiliki metode dengan cara tatap muka, bahkan materi pembelajarannya ada yang menggunakan fisik seperti olahraga, kesenian, dan sebagainya. Tak ayal, pendidikan terasa tak lengkap jika tak ada pertemuan antara kedua belah pihak. Dalam hal ini interaksi guru dan siswa. Namun pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan hal menjadi kebiasaan tersebut. Kondisi ini berpengaruh bagi sistem pendidikan di Indonesia. Terganggunya metode pembelajaran, tingkat konsentrasi siswa dalam pembelajaran daring, dan tidak sangkil dan mangkus dalam penggunaan bahan ajar, menjadi permasalahan tersendiri dalam perubahan adaptasi ini.

Tingkat konsentrasi siswa yang menjadi tolak ukur terpenting dalam proses belajar mengajar, akan sangat berbeda daya tangkapnya terhadap materi yang disampaikan melalui tatap muka dibanding sistem daring. Bila dengan tatap muka dapat berinteraksi langsung antara guru terhadap murid misalnya mendapat gerakan hukuman, ganjaran, kepatuhan, dan kesopanan dalam berinteraksi berpengaruh pada pola sikap dan sifat murid antar sesama. Namun dengan daring, tidak hanya guru peran orang tua sangat dibutuhkan.

Orang tua memang sosok penting terhadap anak didik baik daring ataupun tidak. Hanya saja dalam situasi sekarang peran orang tua sama berpengaruhnya dengan guru. Guru bisa memberikan materi dan pembelajaran namun bersama orang tualah pola sikap dan sifat terbentuk. Sebagai contoh, kejujuran dalam belajar. Jangan sampai orang tua yang sekolah dan anak hanya tinggal menyalin saja. Pemberian materi soal yang diberikan oleh guru terhadap murid memang seharusnya dikerjakan oleh murid tersebut dan tugas orang tua hanya membimbing. Tidak sangkil dan mangkusnya dalam penggunaan bahan ajar, bahan ajarpun menjadi maya dalam pembelajaran daring. Sebagai contoh, pada pembelajaran sains yang menggunakan bahan dan alat praktikum yang biasa digunakan di ruang khusus yaitu laboratorium. Dengan hanya mangkir di rumah saja menjadikan murid hanya mengandalkan gambar-gambar dan video-video melalui daring.

Hal lain, ternyata pengaruh pendidikan dalam metode daring tidak merata sama. Pada pendidikan dasar seperti tingkat PAUD/TK dan SD berbeda dengan pendidikan menengah-tinggi seperti SMP/SMA-Perguruan Tinggi. Efektivitas pembelajaran tersulit adalah pendidikan dasar PAUD/TK dan SD yang perlu bimbingan orang tua secara penuh. Bagi pendidikan menengah-tinggi pembelajaran daring bisa mandiri. Kendala umum yang didapat adalah kekuatan sinyal internet bagi masyarakat daerah pedalaman yang mempengaruhi durasi waktu dan pemahaman.

Dalam perspektif lain, pandemi juga membawa dampak positif dalam dunia pendidikan, seperti menjadikan pembelajaran lebih menarik dan canggih karena menggunakan teknologi. Setiap masyarakat dituntut untuk melek teknologi, yang biasanya telepon pintar hanya digunakan untuk direct message, media sosial, upload-download konten atau sarana jual beli, dengan adanya pandemi masyarakat mesti tahu dan paham bagaimana zoom-meet, webinar, live streaming, dan sebagainya. Teknologi canggih menjadikan anak didik secara otomatis menjadi ‘canggih’, mereka dapat belajar melalui lingkungan dengan menyesuaikan materi pembelajaran dari guru dan bimbingan orang tua.

Di awal masa pandemi, memang banyak kendala dan tantangan dalam dunia pendidikan karena mengalami adaptasi yang spontan. Namun seiring waktu, proses penyesuaian-penyesuaian mulai menemukan keteraturannya. Persoalan kuota internet yang sering dikeluhkan dalam pembelajaran daring, mulai mendapat perhatian, pemerintah memberikan kuota gratis untuk belajar. Begitu pun dalam metode pembelajaran, sudah bermunculan pilihan aplikasi mempermudah proses belajar. Meskipun tak dipungkiri tak setiap orang memiliki fasilitas teknologi yang memadai. Namun untuk kebaikan bersama, kita “dipaksa” untuk tak banyak keluhan, demi mengikuti protokol kesehatan dijalankan dengan keseriusan dalam kekhawatiran kondisi kesehatan diri masing-masing.

Pada akhirnya belajar tatap muka maupun daring, menjadi pertaruhan kelegowoan egosentris kita sebagai orang tua. Tatap muka dan daring, semua menuntut peran kita dalam membangun karakter anak. Untuk kondisi belajar dan menuntut ilmu masih bisa dikatakan sangkil dan mangkus apabila dalam diri pribadi menerapkan kalimat bijak Ki Hajar Dewantara, “setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”. Belajar dalam masa pandemi menuntut setiap pribadi untuk tetap produktif dengan belajar dari mana saja, agar teratur materi dapat menyesuaikan berdasarkan kurikulum yang berlaku dari sekolah. Untuk tetap produktif, kegiatan belajar mengajar memiliki tantangan besar dan situasi pandemi yang melelahkan. “Jika kamu tidak tahan dengan lelahnya belajar maka kamu harus tahan dengan perihnya kebodohan”.

*Penulis adalah Pegiat Rumah Literasi Rafflesia

BACA LAINNYA