×

Agusrin dan Rohidin Berkompromi? Bijak dan Elegan

Agusrin M Najamudin dan Rohidin Mersyah (Foto News Ikal)

GARUDA DAILY – Isu turut berlayarnya eks Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin di Pilgub Bengkulu 2020 dinilai akan memecah basis selatan, yang kemudian memberikan keuntungan bagi calon ketiga. Di tengah menguatnya dorongan Agusrin untuk maju, juga muncul isu keduanya akan menggelar pertemuan. Pertemuan itu nanti akan menjadi penentu apakah Agusrin maju atau tidak. Tentang pertemuan itu diungkapkan langsung adik kandung Agusrin, Wakil Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin kepada awak media massa belum lama ini.

Pengamat Politik yang juga Akademisi Universitas Bengkulu Azhar Marwan menilai majunya Agusrin dan Rohidin tidak akan terlalu berpengaruh pada pemilih rasional yang dalam memilih memiliki pertimbangan yang jelas dan terstruktur. Namun akan terjadi perpecahan suara di kalangan pemilih emosional dan tradisional yang persentasenya mencapai 60 persen. Untuk itu, menurutnya bijak dan elegan jika kedua figur ini berkompromi.

“Karena Rohidin dan Agusrin berangkat dari komunitas yang sama maka banyak yang menterjemahkan di kalangan pemilih tradisional akan terbelah, akan terjadi perpecahan suara. Agusrin sebagai mantan Gubernur Bengkulu tentu meninggalkan massa dan loyalis, ada kelompok-kelompok yang loyal karena selama beliau memimpin ada kenangan-kenangan manis, meskipun ada juga kenangan pahit. Kalau ada informasi mereka berdua akan berkompromi karena mereka juga ada ikatan keluarga, saya pikir itu adalah cara-cara yang bijak dan elegan,” tuturnya.

Akan tetapi, masih menurut Azhar Marwan, kendati keduanya maju tidak lantas memberikan keuntungan pada calon ketiga. Sebab meski melekat politik identitas, baik Agusrin ataupun Rohidin juga punya jaringan dan irisan di luar komunitas.

Baca juga Pilgub Bengkulu, Otonomi itu Kewenangan bukan Kekuasaan

Disinggung mengenai pendapat Pengamat Politik Bengkulu Lamhir Syam Sinaga yang menyarankan Rohidin tidak maju, mengingat hasil survei tiga lembaga survei yang merilis popularitas dan elektabilitasnya di bawah Agusrin. Azhar Marwan sampaikan, secara akademis tidak layak mengatakan seseorang tersebut jangan maju atau tidak.

“Dalam politik tentu ada pertimbangan politik sebelum mengambil keputusan politik. Saya katakan ada namanya peta politik, artinya seseorang itu tentu sudah memetakan kekuatannya seperti apa. Yang kedua ada kalkulasi politik, dia sudah mengkalkulasi seberapa kuat basis, kemudian di luar basis, irisan politik yang bisa dimanfaatkan untuk mendukungnya seberapa besar. Yang ketiga insting politik, hati nurani kita akan bicara. Walaupun peta kita seperti ini, kalkulasi kita seperti ini, menang misalnya, tapi insting politik kita? Kalau ketiga ini dipegang tentu orang tersebut akan berhitung untuk maju atau tidak,” jelas Azhar Marwan.

“Saya misalnya disuruh maju saya tentu mempertimbangkan pemetaan, kalkulasi, dan insting politik. Terus saya disarankan tidak maju, saya juga mengacu kepada ketiga pertimbangan itu, jadi bukan kita yang menentukan tapi figur yang terjun ke dunia politik,” sambungnya.

Politik, lanjut Azhar Marwan, harus juga mengetahui kedalamannya. Hasil survei sah-sah saja untuk bahan evaluasi, tapi tidak bisa dijadikan ukuran bahwa itu realita, sebab dalam politik perubahan tiap detik bisa saja terjadi.

“Jadi silahkan mereka memetakan, mengkalkulasi, dan memainkan instingnya, baru menentukan maju atau tidak. Politik tidak bisa melihat ke permukaan saja, tapi harus berpikir seperti apa kedalamannya. Kita adakan pertemuan, ribuan yang datang, apakah ribuan itu akan memilih kita semua, belum tentu. Apalagi kalau rujukannya survei, untuk bahan evaluasi boleh, tapi tidak boleh kita jadikan ukuran bahwa itu realita, apalagi waktu masih sangat panjang, bisa saja perubahan itu terjadi setiap detiknya,” pungkasnya.

Penulis: Doni S

Baca Lainnya
Loading...
Composite End

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *