si ‘Kutu Loncat’ itu Memprihatinkan?

Yudi Darmawansyah, Politisi Partai Gerindra yang pindah ke Partai Golkar

Entah itu sebuah fenomena atau tidak lagi, namun seorang politisi mendadak atau justru sudah direncanakan untuk ‘banting stir’ yang akrab disapa ‘Kutu Loncat’, kerap mewarnai peristiwa politik tanah air, tak terkecuali Kota Bengkulu.

Sebut saja Reni Heryanti, yang mengikuti jejak sang suami, yang lebih dulu berlabuh ke Partai Demokrat. Ya Politisi Partai Nasdem ini memang sudah diprediksi akan pindah haluan, setelah sang suami Suhartono, yang lebih populer dengan nama Tono Pasar Kambing diberi mandat Ketua DPD Partai Demokrat Kota Bengkulu. Reni kini menjadi salah satu bakal calon legislatif (Bacaleg) Demokrat yang didaftarkan ke KPU Kota Bengkulu.

Jauh sebelum digelarnya ‘hajatan’ pesta demokrasi terbesar di Kota Bengkulu, beberapa nama beken juga banting stir ke partai politik lain. Seperti Nurman Sohardi (Almarhum) yang merapat ke Partai Hanura, setelah sebelumnya lama berkecimpung di Partai Golkar.

Yang paling fenomenal adalah Duo Gerindra, Sutardi dan Yudi Darmawansyah yang sepaket loncat ke Golkar. Keduanya resmi maju sebagai Bacaleg Golkar. Menjadi fenomenal lantaran pindah haluan karena buntut dari Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Bengkulu 2018.

Ya Sutardi dan Yudi sudah menjadi sorotan publik saat disinyalir memberikan dukungan kepada Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Nomor Urut 4 Patriana Sosialinda-Mirza. Sementara Gerindra menjadi parpol pengusung Paslon Nomor Urut 3 Helmi Hasan-Dedy Wahyudi, paslon yang memenangkan pilwakot.

Khusus nama yang disebut terakhir, yakni Yudi Darmawansyah yang kini masih menjabat Wakil Ketua I DPRD Kota Bengkulu, loncat partai bukan hal baru baginya. Karena 2012 silam ia juga diketahui mundur dari PDIP. Waktu itu kapasitasnya juga sebagai anggota DPRD Kota Bengkulu.

Memang tidak ada yang salah dengan loncat partai, karena sejatinya politisi kutu loncat tidak selamanya berkonotasi negatif, pastinya banyak hal yang mendasari. Entah itu karena hati nurani atau justru karena kekecewaan terhadap partai lama yang tidak mengakomodir kepentingannya, bahkan bisa jadi karena pragmatisme politik sempit yang mendarah daging di jiwa si kutu loncat.

Jika didasari dengan kesadaran politik yang tinggi, dimana si kutu loncat merasa parpol lama tidak lagi berjalan sesuai dengan cita-cita dan kehendak rakyat. Atau paling tidak parpol lama tak lagi menganggap keberadaannya ada. Karena keberadaannya dipandang menggangu kepentingan petinggi parpol ia bernaung, maka pilihan loncat partai adalah pilihan logis dan atas dasar pertimbangan akal sehat.

Akan tetapi, apabila menjadi kutu loncat karena misi pribadi yang gagal, maka pilihan menjadi si kutu loncat adalah pilihan yang memprihatinkan.

Publik Kota Bengkulu bisa menilai, apakah memilih menjadi si kutu loncat itu karena hati nurani atau karena gagal mewujudkan misi pribadinya. Maka tentukanlah sikap untuk tidak memilih politisi yang menjadi kutu loncat karena gagal mewujudkan misi pribadinya itu. Karena sejatinya Berpolitik adalah Berbicara tentang Kepentingan Rakyat. Bukan kepentingan golongan atau pribadi.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *