“Selamat Helmi Hasan, Walikota Periode 2018-2023”

Empat Pasangan Calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota resmi mewarnai kontestasi Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwakot) Bengkulu 2018. Keempatnya yakni, David Suardi-Bakhsir, Erna Sari Dewi-Ahmad Zarkasi, Helmi Hasan-Dedy Wahyudi dan Patriana Sosialinda-Mirza.

Paslon nomor urut 1 merupakan satu-satunya pasangan yang maju melalui jalur perseorangan. Tiga paslon lainnya maju lewat perahu partai politik. Paslon nomor urut 2 diusung oleh Partai Nasdem, PKS dan PPP. Paslon nomor urut 3 diusung PAN, Partai Gerindra dan Demokrat. Paslon nomor urut 4 diusung oleh Partai Golkar, PDIP dan Partai Hanura.

Dengan kembali majunya Petahana Helmi Hasan sebagai calon jelas menambah pekerjaan rumah calon-calon lainnya. Ya, tak bisa dipungkiri Helmi dipandang punya kans paling besar untuk kembali menduduki kursi walikota untuk kedua kalinya.

Kenapa? Pertama, ketika berbicara kecenderungan yang terjadi di negara-negara demokrasi seperti Indonesia, calon petahana memang memiliki kesempatan yang sangat besar untuk terpilih kembali. Menurut Cox dan Katz (1996), ada tiga faktor yang membuat calon petahana terpilih kembali.

Yakni, pengaruh langsung, yaitu pengaruh yang didapatkan dari berbagai bentuk pelayanan yang diberikan kepada masyarakat selama periode kekuasaan sebelumnya. Lalu, pengaruh kualitas kandidat, misalnya keterampilan menghadapi pemilih dalam kampanye. Pengaruh ini dibentuk selama periode kekuasaan sebelumnya. Kemudian, pengaruh dalam memberikan keraguan kepada penantang. Tiga faktor ini yang kemudian populer dalam literatur ilmu politik dengan sebutan ‘keuntungan petahana’.

Alasan lain kenapa Petahana Helmi Hasan memiliki peluang lebih besar dari kandidat lain -> Baca Pilwakot, Petahana Melegitimasi Keteraturan Pembangunan

Tak ada gading yang tak retak. Begitu juga dengan Helmi, meski banyak hal telah berhasil ia lakukan pada masa kepemimpinannya sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat Kota Bengkulu. Helmi juga meninggalkan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan saat menjabat. Hal ini kemudian pun secara gentleman diakui Helmi. Meski telah melakukan banyak hal, berhasil mengubah wajah kota dan keberhasilannya dalam pembangunan infrastruktur yang sama-sama kita nikmati sekarang, Helmi tetap rendah hati, ia pun mengakui masih ada tugas, pekerjaan rumah yang belum terselesaikan di periode pertama kepemimpinannya.

Apalagi jika sang penantang mampu mengeksplor apa yang menjadi pekerjaan rumah Helmi, Kemudian mampu meyakinkan publik akan program-program alternatif. Dengan demikian, penantang memiliki modal awal yang bagus jika mampu menumbuhkan keraguan di kalangan pemilih terhadap calon petahana. Hal ini karena evaluasi retrospeksi pemilih akan lebih difokuskan kepada calon petahana ketimbang penantang.

Belum lagi jika berbicara sejarah pilkada langsung di Kota Bengkulu. Fakta bahwa calon petahana belum ada yang berhasil menduduki singgasananya untuk kedua kali sebagai Walikota Bengkulu. Seperti Ahmad Kanedi yang berhasil menumbangkan lawannya dan Helmi yang gantian merebut kursi empuk walikota dari Bang Ken, sapaan akrab Ahmad Kanedi.

Akan tetapi, sejarah juga mengatakan, keberhasilan Bang Ken dan Helmi Hasan memenangkan pertarungan Pilwakot Bengkulu waktu itu juga berangkat dari totalitas perjuangan yang ekstra luar biasa. Keduanya mampu meyakinkan publik lewat program-program alternatif. Keduanya mampu mengeksplor apa yang menjadi ekspektasi publik namun belum terpenuhi oleh walikota sebelumnya. Keduanya juga menjadikan Pesta Demokrasi ini selayaknya ‘pesta’.

Dan penulis belum melihat kompetitor Helmi melakukan itu. Satu bulan lebih sejak penetapan paslon dan nomor urut belum tampak gairah pesta pada Pilwakot Bengkulu 2018 ini. Jika ini kemudian tetap dipertahankan, mungkin ada baiknya kita sekarang mengucapkan “Selamat Helmi Hasan, Walikota Periode 2018-2023”.

Baca juga Ketika Cinta Helmi, Mengalahkan ‘Hasrat Politik’

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *