Mardiyanti, Peluang dan ‘Batu Kerikil’

Posted on 30/09/2018

Daftar Calon Tetap (DCT) Caleg DPRD Kota Bengkulu telah ditetapkan KPU Kota Bengkulu dan siap mewarnai kontestasi Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 mendatang, tak terkecuali Caleg Partai Amanat Nasional (PAN) Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Bengkulu I, yang meliputi Kecamatan Muara Bangkahulu, Sungai Serut dan Teluk Segara.

Dapil I bisa dikatakan sebagai salah satu daerah basis PAN, dimana pada Pileg 2014 lalu, PAN nyaris mendapatkan dua kursi DPRD Kota Bengkulu. Dengan Mardiyanti, yang waktu itu menjadi ‘Vote Getter’ peraih suara terbanyak, melampaui perolehan suara Dempo Xler, yang dulu lebih diunggulkan. Bahkan Mardiyanti menjadi peraup suara terbanyak kedua se-Kota Bengkulu dengan dua ribuan suara.

Baca Intip DCS PAN Dapil I Kota Bengkulu, Mardiyanti Nomor Satu, WMU Nomor Pemenang

Dengan capaian itu, tak terlalu mengejutkan jika Mardiyanti akhirnya diberi amanah memegang tampuk kepemimpinan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Kota Bengkulu. Pasca itu, praktis langkah politiknya berjalan mulus. Ia lalu menjabat Ketua Komisi I DPRD Kota Bengkulu saat rolling komisi.

Terakhir, ia sukses menjadi saksi atas terpilihnya Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Provinsi Bengkulu Helmi Hasan untuk kali kedua pada Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwakot) Bengkulu 2018, dimana dia menjadi Ketua Tim Sukses Helmi-Dedy Wahyudi.

Kalaupun ada ‘batu kerikil’, Mardiyanti hanya gagal menjadi calon walikota atau wakil walikota, meski namanya sempat digadang-gadang akan maju pilwakot. Bahkan mengungguli perolehan suara Dedy Wahyudi saat Konvensi Rakyat yang justru dipilih Helmi untuk mendampinginya. Akan tetapi hal tersebut relatif wajar dan normal, pasalnya sulit untuk mewujudkan dua ‘matahari’ dalam satu kontestasi.

Lantas dalam konteks Pileg 2019, apakah perjalanan politik Mardiyanti akan tetap mulus atau kembali tersandung ‘batu kerikil’?

Jika berbicara ‘ego pribadi’ bukan hal sulit bagi Mardiyanti. Dengan kewenangan yang ia miliki, baik sebagai pimpinan partai politik maupun kewenangan seorang legislator, kemudian ditunjang finansial mumpuni, satu kursi di dapilnya bukanlah sesuatu yang sulit, meski tidak mudah.

Namun dengan kapasitasnya sebagai Ketua DPD, Mardiyanti menargetkan PAN akan mengulangi kejayaan pilwakot. Hal ini disampaikannya saat mendaftarkan Bacaleg PAN ke KPU. Ia optimis dengan komposisi yang ada, PAN akan melampaui capaian pada Pileg 2014. Itu berarti, PAN setidaknya meraih lima atau bahkan enam kursi DPRD.

Apalagi (mungkin) ‘pesta’ kali ini menjadi pembuktian terakhir seorang Mardiyanti yang punya ‘lifestyle’ sendiri sebagai politisi.

Mengacu hasil Pileg 2014, hanya ada dua dapil yang satu partai politik (Parpol) berhasil menyabet dua kursi. Yakni Dapil I dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mendudukan dua kadernya, Wien Zafitrah Ruslan dan Sutardi. Lalu Dapil III (Sekarang Dapil II), Selebar dan Kampung Melayu, dua kursi menjadi milik Partai Nasional Demokrat (Nasdem), yakni Baidari Citra Dewi dan Saur Manalu.

Dengan bertambahnya jumlah parpol peserta pemilu, sepertinya akan sulit bagi semua parpol untuk mengikuti kisah sukses Gerindra dan Nasdem. Namun dengan sistem perhitungan suara yang baru, yaitu Sainte Lague Murni, dimana pembaginya bukan kuota kursi tetapi perolehan suara dibagi 1,3,5,7 untuk urutan masing masing kursi, maka meraih satu kursi lebih bukan tidak mungkin untuk diwujudkan.

Dengan catatan hal tersebut harus ditunjang dengan perjuangan ekstra luar biasa dan Mardiyanti harus bisa meyakinkan publik sebagai calon petahana atas apa yang ia lakukan selama satu periode menjadi wakil rakyat. Tak hanya itu, Mardiyanti juga harus paham betul kapasitasnya sebagai ketua partai, dia harus menjelma menjadi figur yang memiliki kemampuan politik mumpuni, berwawasan luas, dan matang di organisasi.

Pertanyaannya, mampukah Mardiyanti mempertanggungjawabkan kerja-kerja legislasi, budgeting dan pengawasan selama ini? Sudahkah Mardiyanti menjadi figur yang memiliki kemampuan politik mumpuni, berwawasan luas dan tentu saja matang serta dewasa dalam berpolitik?

Jika hal tersebut sudah dilakukan dan Mardiyanti mampu memposisikan diri sebagai ketua partai yang tidak hanya berbicara tentang pencalegannya sendiri, namun juga berbicara ‘Ini loh caleg PAN yang semuanya siap mengabdi untuk negeri’ maka bukan tidak mungkin Mardiyanti berhasil membawa PAN melampaui capaian pada Pileg 2014.

Akan tetapi ketika hal itu gagal dilakukan, maka bukan tidak mungkin Mardiyanti kembali tersandung ‘batu kerikil’? Toh faktanya banyak ketua partai di Kota Bengkulu yang gagal mencaleg.

Apalagi jika menilik komposisi caleg di Dapil I dimana Mardiyanti menjadi satu-satunya wajah lama yang mengisi daftar caleg, dan para caleg wajah baru tersebut tidak punya beban mempertanggungjawabkan kerja-kerja legislasi, budgeting dan pengawasan. Namun punya kemampuan politik mumpuni, berwawasan luas dan matang serta dewasa dalam berpolitik. Lantas siapakah ‘batu kerikil’ itu? [Lihat juga: Terinspirasi Sosok Helmi Hasan, Pengusaha Muda ini Maju Bersama PAN]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *