×

Sejarah Baru: PDIP Menguasai Eksekutif dan Legislatif Indonesia

Megawati dan Puan Maharani (Liputan6.com/Andrian M Tunay)

GARUDA DAILY – Pengamat Politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Andriadi Achmad menilai kemenangan PDIP menduduki Ketua DPR RI semestinya sudah diraih sejak periode 1999-2004 dan periode 2014-2019, pasalnya PDIP sebagai parpol pemenang Pemilu 1999 dan 2014. Akan tetapi, konstelasi dan dinamika politik di parlemen membuyarkan kesempatan PDIP untuk posisi Ketua DPR RI. Pada tahun 1999 koalisi poros tengah dikomandoi Amien Rais menghadang PDIP dan pada tahun 2014 Koalisi Merah Putih dikomandoi Prabowo Subianto menjegal PDIP.

“Pada tahun 1999, sebagai pemenang pemilu PDIP tidak berhasil mendudukkan kadernya sebagai Ketua DPR RI dan Ketua MPR RI. Adapun Ketua DPR RI 1999-2004 Akbar Tanjung dari Partai Golkar dan Ketua MPR RI Amien Rais dari PAN. Begitu juga pada Pemilu 2014, Ketua DPR RI dari Partai Golkar dan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dari PAN,” kata Andriadi Achmad.

Baca juga Mempertanyakan Motif Pertemuan Jokowi, PDIP dan Partai Komunis China

Direktur Eksekutif Nusantara Institute PolCom SRC (Political Communication Studies and Research Centre) menjelaskan bahwa momentum kemenangan PDIP baru terasa indah pada Pemilu 2019, di mana bergaining position PDIP berada di titik puncak. Bahkan nyaris tidak ada parpol yang berseberangan dengan PDIP, semua merapat dan meminta restu PDIP, seperti perebutan Ketua MPR RI terindikasi Golkar dan Gerindra meminta restu PDIP untuk posisi tersebut. Pada akhirnya Golkar mendapat restu PDIP sebagai Ketua MPR RI Periode 2019-2024 dan Gerindra akan diberikan posisi di pos kementerian.

“Kemenangan PDIP di Pemilu 2019, diikuti kemenangan Jokowi kader PDIP sebagai presiden dan UUD MD3 memihak PDIP sebagai Ketua DPR RI. Kemudian, sebagai salah satu pemegam saham terbesar dan putri mahkota di PDIP, Puan Maharani dinobatkan sebagai Ketua DPR RI. Ketua DPR RI wanita pertama kali dalam lintasan sejarah parlemen Indonesia,” imbuh Andriadi Achmad.

Baca juga Partai Gelora dan Perpecahan di Tubuh PKS

Penguasaan PDIP di eksekutif dan legislatif adalah momentum yang akan menentukan masa depan PDIP, sebagaimana pernah terjadi pengusaan Partai Demokrat di eksekutif dan legislatif pada periode 2009-2014. Namun, pada akhirnya Partai Demokrat dianggap gagal dalam menjalan peran khususnya di legislatif dengan banyak anggota DPR RI dari Demokrat yang terjerat korupsi, seperti Nazaruddin, Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum, serta menteri dari Demokrat seperti Andi Mallaranggeng (Menpora), Jero Wacik (Menteri ESDM) dan lainnya, membuat suara Partai Demokrat terjun bebas pada Pemilu 2014 (10,09 persen) dan 2019 (7,7 persen). Oleh karena itu, perlu menjadi pelajaran bahwa keberhasilan atau kegagalan PDIP dalam lembaga eksekutif dan legislatif sangat menentukan posisi dan perolehan suara pada Pemilu 2024.

“Masa depan PDIP sangat bergantung apakah menuai keberhasilan atau kegagalan dalam menguasai legislatif dan eksekutif saat ini. Apakah mengikuti jejak Partai Demokrat ketika menguasai eksekutif dan legislatif periode 2009-2014. Khususnya di legislatif dengan banyak anggota DPR RI dari Demokrat tertangkap KPK, begitu juga di eksekutif. Pada akhirnya meruntuhkan kepercayaan rakyat yaitu suara Partai Demokrat menurun drastis pada Pemilu 2014 dan 2019,” demikian Andriadi Achmad. (rLs)

Composite Start
Loading...
Composite End

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *