Bunuh Diri Marak, Pemerintah Mesti Bersikap

Posted on 06/12/2018

GARUDA DAILY – Publik sempat dihebohkan dengan kejadian bunuh diri yang dilakukan seorang pemuda karena putus cinta di Kabupaten Seluma. Bahkan hanya selang satu hari, di kabupaten yang sama, percobaan bunuh diri juga dilakukan seorang ibu rumah tangga. Belum lagi kasus yang sama yang terjadi sebelum-sebelumnya. Mestinya pemerintah daerah responsif, segera bersikap dan mengambil suatu kebijakan, sebagai upaya hal yang sama tidak terulang lagi.

Baca Top News Sakit Hati Diputus Pacar, Pemuda Seluma Gantung Diri

Lantas apa yang mendorong kasus bunuh diri marak terjadi? Kasi Penjangkauan dan Pendampingan Kasus Perempuan dan Anak UPTD PPA Provinsi Bengkulu Ainul Mardianti mengatakan, tidak kuat menghadapi persoalan hidup menjadi salah satu faktor penyebab maraknya kasus bunuh diri di kalangan anak usia produktif.

Seperti belum lama ini, masyarakat Bengkulu dikejutkan oleh sejumlah kasus bunuh diri oleh kalangan anak usia produktif karena permasalahan putus cinta. Dengan ini, psikolog menilai anak-anak usia produktif tersebut belum siap untuk menghadapi persoalan hidup yang dihadapinya sehingga mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

“Ada beberapa faktor pelaku bunuh diri, yang pertama mungkin dia tidak tahan dengan persoalan yang dia hadapi, akhirnya dia mengambil suatu keputusan untuk mengakhiri persoalan itu dengan cara bunuh diri,” ungkapnya, Rabu 5 Desember 2018.

Kasus yang banyak terjadi di Bengkulu seperti putus cinta, ditinggal pacar dan tidak tahan menderita, artinya orang tersebut memiliki kepribadian yang imatur (tidak matang) dalam artian kepribadian yang belum dewasa.

Dalam mengambil suatu keputusan ataupun sikap, menurut Ainul, dia tidak berpikir dahulu secara rasional, untung rugi dan tidak mempertimbangkannya secara matang terlebih dahulu. Maka dari itu, dia berpikir mengakhiri hidup menjadi satu-satunya cara menyelesaikan persoalan yang menderanya.

Selain itu, bisa juga disebabkan karena faktor orang tua yang memang tidak mendidik dan mengajarkan anak tersebut untuk kuat dalam menghadapi persoalan apapun di dalam hidupnya.

Ainul berharap, dengan meningkatnya kasus bunuh diri ini di suatu daerah semestinya pemerintah daerah mengambil suatu kebijakan, bisa bekerjasama dengan Dinas Sosial untuk melakukan penyuluhan bagaimana kiat-kiat menghadapi tingkat kesulitan hidup.

Kemudian, memberikan suatu informasi kepada masyarakat bagaimana bisa menghadapi hidup dengan suatu kekuatan, mungkin ada terapi yang diberikan kepada masyarakat, penguatan agama, dari sisi hukum dan kerugian.

“Solusi terbaik adalah kita kerjasama kepada dinas terkait, itukan remaja usia produktif tidak lepas dari dinas pendidikan, nanti bisa memberikan solusi atau informasi kepada masyarakat bahaya bunuh diri ataupun informasi-informasi yang bermanfaat, apa sih permasalahannya sehingga seperti itu, nah itu yang harus kita gaung-gaungkan bahwasanya bunuh diri itu bukan salah satu solusi dalam mengakhiri semua persoalan, yang ada akan menimbulkan persoalan baru, minimal orang yang ditinggalkan merasa sedih dan kecewa, belum lagi hukum masyarakat yang secara tidak langsung mungkin menjudge bahwa bunuh diri itu disebabkan karena apa,” demikian Ainul. [Nd3]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *