UKM Anak Negeri, Kopi Tutuk Lesung dan Kearifan Lokal yang Hampir Punah

Posted on 13/11/2018

GARUDA DAILY – Baru-baru ini, Kopi Tutuk Lesung turut memeriahkan Pesona Daerah Bengkulu Selatan (PENDABS). Sebuah event tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan. Kegiatan yang dilaksanakan Minggu 11 November 2018 kemarin, selain menggelar Adventure Trail, juga menampilkan dan menyajikan wisata kuliner khas Bengkulu Selatan.

Melihat event ini sebagai momentum untuk memperkenalkan Kopi Tutuk Lesung lebih luas lagi, menjadi salah satu alasan UKM Anak Negeri ambil bagian dalam PENDABS.

“200 kap Kopi Tutuk Lesung kita sajikan untuk peserta Adventure Trail. Ada juga yang dijualbelikan per kap. Selain disajikan langsung, ada juga yang berbentuk kemasan, yang siap dibawa pulang atau dijadikan ole-ole,” kata Ketua UKM Anak Negeri Vika Herlina.

Disampaikan Vika, Kopi Tutuk Lesung diproduksi UKM Anak Negeri, di Desa Suka Negeri Kecamatan Air Nipis Kabupaten Bengkulu Selatan. Kopi Tutuk Lesung juga dikelola beberapa pemuda yang masih berstatus sebagai mahasiswa.

“Kebetulan saya dijadikan teman-teman sebagai Ketua UKM Anak Negeri ini,” ungkapnya.

Cerita Vika, usaha pengolahan Kopi Tutuk Lesung ini sudah berjalan lebih kurang satu tahun. Pengolahan kopi murni menggunakan cara-cara tradisional, dengan ditumbuk menggunakan lesung. Yang juga merupakan tradisi turun-menurun di Provinsi Bengkulu, khususnya di Bengkulu Selatan.

Namun di zaman now ini, sambung Vika, sulit untuk menemukan pengolahan kopi secara tradisional yang ditumbuk menggunakan lesung. Melestarikan nilai-nilai kearifan lokal inilah yang kemudian menjadi misi besar UKM Anak Negeri lewat Kopi Tutuk Lesungnya.

“Artinya UKM kami selain bicara sisi ekonominya, kami coba juga mengangkat nilai-nilai budaya lokal di daerah setempat yang kami anggap sudah hampir punah,” tutur Vika.

Tak hanya itu, UKM Anak Negeri juga memberdayakan ibu-ibu di lingkungannya untuk menumbuk kopi, yang sekarang sudah berjumlah 15 ibu-ibu.

“Alhamdulillah tenaga penumbuk Kopi Tutuk Lesung ini ibu-ibu yang berasal dari desa setempat sebanyak 15 orang. Alhamdulillah kita memberdayakan masyarakat setempat, untuk menambah pemasukan buat ibu-ibu di desa setempat,” kata Vika.

Ia pun berharap, UKM ini bisa memberi dampak yang positif bagi desa, pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi guna menunjang pondasi perekonomian.

“Kita juga berharap Kopi Tutuk Lesung suatu saat nanti menjadi ikon di Bengkulu Selatan, juga Provinsi Bengkulu, yang kemudian bisa menembus pasar nasional, bahkan internasional, Aamiin,” harap Vika.

Di akhir ceritanya, Vika mengungkapkan kendala yang dihadapi guna mengembangkan Kopi Tutuk Lesung ini, yakni masih terbatasnya fasilitas penunjang dalam pengolahan bubuk kopi.

“Kalau stok kopinya, In shaa Allah masih melimpah di desa kami dan sekitarnya,” demikian Vika. [9u3]

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *